Imunisasi Campak, 10 Agustus-10 September 2007

idi_logo.gifDepkes.go.id.

Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap penyakit campak sampai seumur hidup. Penyakit campak yang disebabkan oleh virus yang ganas ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak, minimal dua kali yakni semasa usia 6 – 59 bulan dan masa SD (6 – 12 tahun). Upaya imunisasi campak tambahan yang dilakukan bersama dengan imunisasi rutin terbukti dapat menurunkan kematian karena penyakit campak sampai 48%.

Tanpa imunisasi, penyakit ini dapat menyerang setiap anak, dan mampu menyebabkan cacat dan kematian karena komplikasinya seperti radang paru (pneumonia), diare, radang telinga (otitis media) dan radang otak (ensefalitis) terutama pada anak dengan gizi buruk. Hingga kini penyakit campak masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah umur 1 tahun dan Balita umur 1 – 4 tahun di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 30.000 anak/tahun meninggal karena komplikasi campak. Selain itu, campak berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) atau wabah. Imunisasi adalah jalan utama untuk mencegah dan menurunkan angka kematian anak-anak akibat campak.

Selama satu bulan penuh mulai tanggal 10 Agustus sampai 10 September 2007, Departemen Kesehatan memberikan imunisasi campak melalui kegiatan “Kampanye Imunisasi Campak”. Program imuniasasi kali ini mencakup dua belas propinsi target, meliputi Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Gorontalo, Sulbar, Sulteng, Sulsel, Sultra, Bali dan NTB. Demikian pernyataan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dalam Jumpa Pers 2 Agustus 2007 di Gedung Depkes mengenai kegiatan Kampanye Imunisasi Campak.

Menurut Menkes, total 6.390.180 anak menjadi target program yang mencakup Crash Program Campak dengan sasaran 3.675.817 anak umur 6-59 bulan dan Catch up Campaign Campak dengan sasaran 2.715.363 anak SD/sederajat kelas 1 – 6 (6-12 tahun). Kegiatan ini dipadukan dengan pemberian imunisasi polio tambahan pada 4.070.394 anak. Imunisasi akan diberikan secara bertahap di pos-pos Pelayanan Imunisasi yaitu Posyandu, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dan sarana kesehatan lainnya. Imunisasi yang diberikan dengan cara suntik ini akan dilakukan oleh petugas kesehatan yang terlatih.

Kegiatan imunisasi massal 10 Agustus-10 September 2007 ini merupakan kegiatan imunisasi campak terakhir dari 5 tahap yang diagendakan selama periode 2005 – 2007. Tahap 1 berlangsung pada bulan Januari 2005 di propinsi NAD dan sebagian Sumatera Utara. Tahap 2 diadakan pada bulan April 2006 di Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Imunisasi Tahap 3 diselenggarakan tanggal 29 Agustus – 29 September 2006 di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung dan NTT. Imunisasi Tahap 4 diadakan tanggal 20 Februari – 20 Maret 2007 di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Pembiayaan “Kampanye Imunisasi Campak” bersumber dari American Red Cross melalui WHO dan UNICEF. Sementara dalam pelaksanaannya di lapangan, Depkes bekerja sama dengan Depdagri, Depdiknas, Depag, PKK, Organisasi Keprofesian Kesehatan, Pemda dan LSM.

Dunia telah menyepakati secara global dengan mengajak semua negara di dunia untuk secara bertahap mengeliminasi kasus campak yang dilakukan dengan memberikan imunisasi kepada bayi dan imunisasi ulangan kepada setiap anak (balita dan anak sekolah) karena merupakan kelompok rawan terkena campak. Oleh karena itu, selain dihadiri oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes, Dr. I Nyoman Kandun, MPH dan Ketua Komnas PP Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. Dr. Sri Rezeki, acara jumpa pers juga dihadiri oleh Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia, Georg Petersen, Ketua serta wakil dari UNICEF dan American Red Cross.

Meski telah berkali-kali diselenggarakan, pelaksanaan imunisasi campak secara nasional kerap menemui hambatan di lapangan. Diantaranya, letak geografis yang sulit dijangkau oleh petugas kesehatan. Selain itu, masih ada masyarakat yang menolak imunisasi karena takut ada efek samping (kejadian ikutan pasca imunisasi/KIPI). Hambatan lainnya adalah data sasaran yang kurang akurat, serta keterbatasan biaya operasional. Padahal vaksin campak tergolong aman. Meskipun vaksin ini dapat menimbulkan reaksi pada sebagian kecil anak, namun jarang bersifat serius. Gejala klinis berupa ruam-ruam kulit ringan, demam ringan, pilek adalah reaksi yang paling umum ditemui setelah imunisasi.

Penyakit campak sendiri dapat menyebar melalui percikan ludah (droplet infection) yang keluar ketika bersin atau batuk orang yang terinfeksi. Virus campak menyerang sistem kekebalan tubuh. Gejala klinis yang timbul berupa demam, pilek, batuk disertai ruam/bercak merah pada permukaan kulit, mata merah dan dapat disertai komplikasi seperti pneumonia, diare, radang telinga, serta radang otak yang dapat menyebabkan kematian.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Setjen Depkes. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-522 3002 atau alamat e-mail puskom.depkes@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s