Perkembangan Vaksin Avian Influenza

Depkes.go.id

flu_burung_sign1.pngPengembangan vaksin untuk menanggulangi flu burung menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Sebanyak 16 perusahaan pembuat vaksin dari 10 negara sedang mengembangkan vaksin flu burung melawan virus H5N1. Sebanyak 5 diantaranya juga terlibat dalam pengembangan vaksin terhadap virus avian lainnya seperti H9N2, H5N2, dan H5N3. Demikian seperti dikutip dari situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Saat ini lebih dari 40 uji coba klinis telah dilakukan. Pada umumnya menitikberatkan pada kesehatan kelompok umur dewasa. Setelah menyelesaikan analisa keamanan pada orang dewasa, beberapa perusahaan telah menggagas uji klinis pada kelompok manula dan anak-anak. Semua vaksin aman dan dapat diterima seluruh kelompok umur yang telah diuji.

Untuk pertama kalinya, hasil yang ditunjukkan pada pertemuan yang digelar WHO dengan meyakinkan telah menunjukkan bahwa vaksinasi dengan vaksin avian influenza terbaru dapat membawa respon kekebalan potensial terhadap strain virus H5N1 yang ditemukan pada lokasi geografis yang berbeda. Beberapa vaksin tersebut bekerja dengan antigen dosis rendah, yang berarti lebih banyak dosis vaksin dapat diberikan jika terjadi pandemi.

Perkembangan ini didiskusikan pada pertemuan WHO dalam rangka membahas evaluasi vaksin prototipe untuk pandemi influenza pada uji klinis yang dilakukan di Jenewa, Swis pada 15-16 Februari 2007. Ini merupakan pertemuan ketiga dalam 2 tahun terakhir yang bertujuan untuk melakukan review perkembangan calon vaksin terhadap virus influenza dan untuk meraih kesepakatan terhadap prioritas kegiatan yang dilakukan di masa mendatang.

Lebih dari 100 pakar vaksin influenza dari kalangan akademisi, lembaga kesehatan masyarakat nasional dan internasional, industri farmasi dan badan perumus kebijakan di seluruh dunia menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh WHO Initiative for Vaccine Research and the WHO Global Influenza Programme. Informasi mengenai lebih dari 20 proyek disampaikan dan didiskusikan.

Kebanyakan pabrikan menggunakan referensi strain vaksin yang mengacu pada jenis virus H5N1 yang disediakan oleh WHO Collaborating Centres.

Meskipun perkembangan menggembirakan terungkap pada pertemuan tersebut, WHO menekankan bahwa dunia masih kekurangan kapasitas pembuatan untuk memenuhi kebutuhan vaksin influenza untuk pandemi global. Dengan melihat kapasitas yang ada saat ini, diperkirakan kurang dari 400 juta dosis per tahun dari vaksin influensa trivalent.

Dalam menindaklanjuti tantangan ini, pada tahun 2006 WHO mengumumkan Global pandemic influenza Action Plan (GAP) untuk meningkatkan supply vaksin, usaha senilai US$ 10 miliard selama 10 tahun. Salah satu tujuannya adalah membantu Negara berkembang untuk memiliki fasilitas produksi vaksin influenza sendiri melalui transfer teknologi, memberikan mereka respon yang berkelanjutan dan konsisten terhadap ancaman pandemic influenza. WHO kini sedang bekerja dengan beberapa produsen vaksin, terutama pada Negara berkembang yang terkena H5N1, untuk memfasilitasi pengadaan produksi vaskin influenza dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s