Imunisasi Adalah Hak Setiap Anak Indonesia

Depkes.go.id.
Bulan depan, tepatnya tanggal 20 Februari 2007, kampanye imunisasi campak akan dimulai di pulau Jawa, kecuali di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang imunisasi massal campaknya telah dilakukan pada waktu pasca bencana. Begitu informasi yang didistribusikan oleh Sub Direktorat Imunisasi Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan.

Imunisasi ini diperlukan untuk memutus rantai penularan campak, dan memastikan agar anak Indonesia terlindung dari bahaya campak. Memangnya kenapa jika tidak diimunisasi? Campak yang sangat menular pada anak-anak dapat menyebabkan radang otak, radang telinga tengah, pneumonia, bahkan kebutaan hingga kematian. Kita tentu tidak akan membiarkan anak-anak kita terkena penyakit berbahaya yang sebenarnya sudah dapat dicegah.

Imunisasi sangat penting, namun kerap menimbulkan dilema bagi orang tua. Ada orang tua yang khawatir anak mereka akan terkena akibat sampingan yang menimbulkan masalah kesehatan lain. Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat berita yang muncul di media massa. Kasus Shinta Bella, misalnya. Anak berusia 9 tahun yang bersama orangtuanya bermukim di Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi, Propinsi Jawa Barat, diberitakan lumpuh setelah diimunisasi.

Kasusnya menarik perhatian massa setelah dengan dukungan sebuah LBH kesehatan yang siap dengan aksi teatrikalnya, gadis kecil ini mendatangi kediaman Presiden SBY di Cikeas. Sayang Shinta tak dapat menemui Bapak Presiden. Disebutkan dalam berita bahwa kelumpuhan terjadi setelah Shinta disuntik imunisasi Tetanus di Madrasah Ibtidaiyah Al Huda, Jatimulya Bekasi.

Tidak diceritakan bahwa sebelum program imunisasi Tetanus Toksoid (TT) di sekolahnya dilaksanakan, para murid diberitahu tentang imunisasi dan manfaatnya. Tidak pula diceritakan bahwa pada lewat pemeriksaan lengkap di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, ditegaskan bahwa kelumpuhan Shinta tidak diakibatkan imunisasi. Shinta memang mengidap penyakit lain, dan imunisasi yang diberikan tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit Shinta.

Kesimpulan semacam ini tentu tidak sembarangan, dan didasarkan pada pemeriksaan klinis yang cermat. Apalagi evaluasi program imunisasi memang harus dilakukan dengan seksama. Pemerintah tentu harus memastikan bahwa sebuah program benar-benar aman, apalagi jika menyangkut generasi muda bangsa. Bukankah tujuan imunisasi adalah untuk melindungi mereka?

Begitu dianggap pentingnya pemberian kekebalan pada anak-anak sehingga imunisasi standar diberikan secara gratis di Puskesmas. BCG untuk menangkal TBC, DPT untuk menangkal Dipteri Pertusis (batuk) dan Tetanus, lalu vaksin Polio, Campak dan Hepatitis D. Program imunisasi ini diperkuat oleh program imunisasi gratis di sekolah-sekolah, yaitu vaksinasi Dipteri Tetanus untuk siswa kelas I SD dan vaksinasi TT untuk siswa kelas II dan III SD. Program ini merupakan perwujudan Pasal 10 UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, dimana upaya kesehatan juga dilakukan lewat pencegahan penyakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s