Frambusia, Penyakit yang Hampir Punah

drhandri.wordpress.com

Dalam bahasa Inggris disebut Yaws, ada juga yang menyebut Frambesia tropica dan dalam bahasa Jawa disebut Pathek. Di zaman dulu penyakit ini amat populer karena penderitanya sangat mudah ditemukan di kalangan penduduk. Di Jawa saking populernya telah masuk dalam khasanah bahasa Jawa dengan istilah “ora Patheken”.

Frambusia merupakan penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh Treponema pallidum sub spesies pertenue (merupakan saudara dari Treponema penyebab penyakit sifilis), penyebarannya tidak melalui hubungan seksual, yang dapat mudah tersebar melalui kontak langsung antara kulit penderita dengan kulit sehat. Penyakit ini tumbuh subur terutama didaerah beriklim tropis dengan karakteristik cuaca panas, banyak hujan, yang dikombinasikan dengan banyaknya jumlah penduduk miskin, sanitasi lingkungan yang buruk, kurangnya fasilitas air bersih, lingkungan yang padat penduduk dan kurangnya fasilitas kesehatan umum yang memadai.

Didunia, pada awal tahun 1950-an diperkirakan banyak kasus frambusia terjadi di Afrika, Asia, Amerika Selatan dan Tengah serta Kepulauan Pasifik, sebanyak 25 – 150 juta penderita. Setelah WHO memprakarsai kampanye pemberantasan frambusia dalam kurun waktu tahun 1954 – 1963, para peneliti menemukan terjadinya penurunan yang drastic dari jumlah penderita penyakit ini. Namun kemudian kasus frambusia kembali muncul akibat kurangnya fasilitas kesehatan public serta pengobatan yang tidak adekuat. Dewasa ini, diperkirakan sebanyak 100 juta anak-anak beresiko terkena frambusia.

Masih adalah frambusia di Indonesia? Jawabannya masih ada, tersebar di daerah kantong-kantong kemiskinan. Pada tahun 1990, 21 provinsi dari 31 provinsi di Indonesia melaporkan adanya penderita frambusia. Ini tidak berarti bahwa provinsi yang tidak melaporkan adanya frambusia di wilayah mereka tidak ada frambusia, hal ini sangat tergantung pada kualitas kegiatan surveilans frambusia di provinsi tersebut.

Pada tahun 1997 hanya enam provinsi yang melaporkan adanya frambusia dan pada saat krisis di tahun 1998 dan 1999 tidak ada laporan sama sekali dari semua provinsi. Tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, 8-11 provinsi setiap tahun melaporkan adanya frambusia. Pemerintah pada Pelita III (pertengahan pemerintahan Orde Baru) menetapkan bahwa frambusia sudah harus dapat dieliminasi dengan sistem TCPS (Treponematosis Control Project Simplified) dan “Crash Program Pemberantasan Penyakit Frambusia (CP3F)”. Namun, kenyataannya sampai saat ini frambusia masih ditemukan. Hal ini bisa disebabkan oleh karena metode, organisasi, manajemen pemberantasan yang kurang tepat dan pembiayaan yang kurang atau daerah tersebut selama ini tidak tersentuh oleh pemerataan pembangunan. Paling tepat kalau dikatakan bahwa masih adanya frambusia di suatu wilayah sebagai resultan dari upaya pemberantasan yang kurang memadai dan tidak tersentuhnya daerah tersebut dengan pembangunan sarana dan prasarana wilayah.

Penyakit frambusia ditandai dengan munculnya lesi primer pada kulit berupa kutil (papiloma) pada muka dan anggota gerak, terutama kaki, lesi ini tidak sakit dan bertahan sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Lesi kemudian menyebar membentuk lesi yang khas berbentuk buah frambus (raspberry) dan terjadi ulkus (luka terbuka). Stadium lanjut dari penyakit ini berakhir dengan kerusakan kulit dan tulang di daerah yang terkena dan dapat menimbulkan kecacatan 10-20 persen dari penderita yang tidak diobati akan cacat.

Penyakit ini bisa bersifat kronik apabila tidak diobati, dan akan menyerang dan merusak kulit, otot serta persendian sehingga menjadi cacat seumur hidup. Pada 10% kasus frambusia, tanda-tanda stadium lanjut ditandai dengan lesi yang merusak susunan kulit yang juga mengenai otot dan persendian.

Frambusia umumnya menyerang anak-anak berusia dibawah 15 tahun. Rata-rata terjadi antara usia 6 – 10 tahun. Jenis kelamin tertentu tidak terkait dengan penyakit ini.

Terdapat 3 stadium frambusia yang dikenal, yakni :

  1. Stadium Primer.

Setelah masa inkubasi antara 9-90 hari (rata-rata 3 minggu), lesi primer atau induk frambusia berkembang pada sisi yang terkena penularan berupa gigitan, goresan dan gesekan dengan kulit yang terkena frambusia. Umumnya terjadi di daerah anggota gerak (lengan dan kaki). Lesi berwarna kemerahan, tidak nyeri dan kadang-kadang gatal-gatal berbentol/kutil (papul). Papul-papul tersebut akan meluas dengan diameter 1-5 cm untuk kemudian menjadi ulkus (luka terbuka) dengan dasar berwarna kemerahan seperti buah berry. Lesi-lesi satelit bisa bersatu membentuk plak. Karena jumlah treponema yang banyak, maka lesi tersebut sangat menular. Pembesaran kelenjar limfa, demam serta rasa nyeri merupakan tanda dari stadium ini. Induk frambusia akan pecah dalam 2-9 bulan yang meninggalkan bekas dengan bagian tengah yang bersifat hipopigmentasi.

  1. Stadium Sekunder.

Sekitar 6-16 minggu setelah stadium primer. Lesi kulit atau lesi anakan yang menyerupai lesi induk tapi berukuran lebih kecil yang biasanya ditemukan dipermukaan tubuh dan sebagian di rongga mulut atau hidung. Lesi anakan ini akan meluas, membentuk ulkus dan menghasilkan cairan-cairan fibrin yang berisi treponema, yang kemudia mengering menjadi krusta. Cairan tersebut menarik lalat-lalat untuk hinggap dan kemudian menyebarkannya ke orang lain. Kadang-kadang bentuk serupa infeksi jamur dapat terlihat. Kondisi ini diakibatkan proses penyembuhan inti dari papiloma atau gabungan dari lesi yang membentuk bundaran. Lesi di aksila atau di lipat paha menyerupai condylomatalata. Papil-papil di telapak kaki berberntuk tipis, hiperkeratosis yang akan menjadi erosi. Rasa nyeri menandai stadium ini.

  1. Stadium Tersier.

Pada stadium ini, sekitar 10% kasus setelah 5-15 tahun akan kembali kambuh, yang ditandai dengan lesi kulit yang destruktif, lesi pada tulang dengan kemungkinan terkenanya jaringan saraf dan penglihatan penderita. Bertambahnya ukuran, tidak nyeri, perkembangan nodul-nodul dibawah kulit dengan penampakan nanah nekrosis dan ulkus. Ulkus tersebut terinfeksi karena rusaknya struktur kulit dibawahnya. Bentuk hiperkeratosis dan keratoderma pada telapak tangan dan kaki sangat jelas terlihat. Stadium ini dapat menyerang tulang dan persendian. Infeksi tulang (osteitis) yang terutama menyerang tulang kaki dan tangan. Infeksi ini apabila tidak terkendali akan menyebabkan hancurnya struktur tulang, dan berakhir dengan kecacatan dan kelumpuhan.

Frambusia bila tidak segera ditangani akan menjadi penyakit kronik, yang bisa kambuh dan menumbulkan gejala pada kulit, tulang dan persendian. Pada 10% kasus pasien stadium tersier, terjadi lesi kulit yang destruktif dan memburuk menjadi lesi pada tulang dan persendian. Kemungkinan kambuh dapat terjadi lebih dari 5 tahun setelah terkena infeksi pertama.

Strategi Pemberantasan frambusia terdiri dari 4 hal pokok yaitu:

¯ Skrining terhadap anak sekolah dan masyarakat usia di bawah 15 tahun untuk menemukan penderita.

¯ Memberikan pengobatan yang akurat kepada penderita di unit pelayanan kesehatan (UPK) dan dilakukan pencarian kontak.

¯ Penyuluhan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

¯ Perbaikan kebersihan perorangan melalui penyediaan sarana dan prasarana air bersih serta penyediaan sabun untuk mandi.

Pengobatan frambusia dilakukan dengan memberikan antibiotika. Antibiotika golongan penicillin merupakan obat pilihan pertama. Bila penderita alergi terhadap penicillin, dapat diberikan antibiotika tetrasiklin, eritromisin atau doksisiklin.

Kesimpulan

¯ Penyakit frambusia bersama-sama dengan tetanus neonatorum adalah penyakit yang merupakan indikator keterbelakangan, terkait dengan gizi, kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek, tidak tersedianya sarana dan prasarana air bersih yang memadai.

¯ Masih ada atau munculnya kembali frambusia di suatu daerah sebagai indikasi tidak tersentuhnya wilayah tersebut oleh pemerataan pembangunan atau rusaknya infrastruktur yang pernah dibangun.

¯ Penyakit frambusia bisa dieliminasi asalkan strategi pemberantasan dilaksanakan dengan tepat dan sepenuh hati karena pengobatannya sangat mudah.

Keterlibatan institusi yang menangani prasarana pemukiman dan prasarana wilayah bersama-sama masyarakat yang diberdayakan sangatlah penting dalam upaya penyediaan air bersih dalam jumlah yang cukup. Dengan tersedianya air bersih dalam jumlah yang cukup selain frambusia, banyak penyakit menular lain yang dapat dicegah.*

About these ads

8 thoughts on “Frambusia, Penyakit yang Hampir Punah

  1. Mungkin banyak dari kita yang tak tahu bahwa dulu di Indonesia ada satu lembaga , instansi , unit atau bagian dari departemen kesehatan RI yg special membidangi atau mengurusi atau mengatasi penyakit frambusia yg pada saat itu merajalela di indonesia. Unit itu berada di Jogjakarta kalau tak salah berkantor di jln pojok beteng timur dekat bank kartini. Saya sangat dekat dan familier dgn penyakit frambusia ini, bukan karena saya ahli atau dokter atau pernah menderita penyakit ini. Tapi ayah saya adalah salah satu orang yg bertugas di unit ini. Saya tahu betul bagaimana perjuangan orang-orang yg bertugas di unit itu yg mana pada saat itu penyakit frambusia sangat merajalela di indonesia. Bagaimana kerasnya perjuangan oranng-orang di unit ini. mereka di kirim ke seluruh wilayah indonesia utk mengatasi penyakit ini kecuali di papua yg pada saat itu masih disengketakan dgn belanda. Orang-orang ini dikirim ke pelosok2 daerah,. pulau2 terpencil sampai ke kep. alor, solor NTT, kep Mentawai , p sumatera, kalimantan , sulawesi, dan Jawa tentunyya. Saya ingat betul ayah saya berbulan2 bertugas keliling indonesia dgn teman2 seperjuangannya . Saya masih ingat seringkali ayah membawa oleh2 dari daerah yg pernah dikunjunginnya, pernah membawa kain dari suku mentawai , suku badui, suku flores dll. Dan dari kecil buku2 ayah mengenai penyakit frambusia inilah yg sering menjadi bacaan saya. banya sekali buku ttg frambusia yg dimiliki ayah saya. Dan setiap libur sekolah sejak SD saya selalu diajak ayah ke kantornya di jogja . bertemu dgn teman-teman ayah saya yg berjuang bersama di unit ini (frambusia)_ sampai pada akhirnya unit ini dibubarkan karena penyakit ini sudah hilang atau bisa diatasi dari bumi indonesia. Saya minta maaf bila menulis ini. Saya hanya ingin mengingat jasa-jasa mereka dan mengingatkan pada semua orang atau pemerintah bahwa dulu ada satu unit bagian dari dep kes yg berada di jogja yg berjasa memberantas penyakit frambusia. Dan saya ingin berkomunikasi dgn anak atau cucu dari orang-orang yg pernah bertugas di unit Frambusia jogjakarta, karena saya yakin mereka sudah tidak ada dan tinggal anak atau cucunya saja.

  2. Kami di telpon oleh seorang teman di Nias dan curiga itu adalah frambusia. Kaki sebelah lebih besar, seluruh badan penuh dengan bisul yang pecah katanya. Masih umur 16 tahun. Apakah betul frambusia?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s