Ketika Komunikasi Itu Hilang… Tinjauan terhadap Kasus Ibu Prita dari Sisi yang Berbeda

Kasus Ibu Prita, seorang ibu rumah tangga biasa yang kebetulan melek internet lagi hangat-hangatnya dibicarakan diberbagai media. Sebuah tulisan yang dikirimkannya kepada mailing list teman akhirnya membawa Prita ke penjara. Tragis, karena ternyata tulisan itu mempunyai kekuatan magis yang dasyat. Kalau maling ayam ketangkep polisi kemudian dipenjara, atau pejabat tinggi negara yang tersandung korupsi dipenjara itu hal yang wajar. Nah ini, sebuah tulisan…. Ada apa sih?

Tentu saja tulisan itu bukan tulisan biasa. Adalah cerita pribadi Prita tentang kejadian yang dialami sewaktu menggunakan jasa layanan sebuah rumah sakit (saya sengaja tidak menyebutkan nama rumah sakit itu disini karena sumpah, saya takut juga dipenjara) didekat tempat tinggalnya, lalu kemudia mengalami ketidakpuasan terhadap layanan yang diterima. Terlepas apakah itu ketidaksamaan hasil pemeriksaan kadar trombosit, dokter yang tidak terbuka, atau terprovokasi pihak lain yang ingin mencari keuntungan, saya ndak ambil pusing.

Inti dan pokok dari masalah ini sebenarnya sederhana, sesuai dengan judul tulisan ini, hilangnya komunikasi yang baik antara pasien dan rumah sakit sebagai penyedia jasa kesehatan. Tidak lebih. Tentang tudingan bahwa rumah sakit melakukan kesalahan prosedur, atau malpraktek, atau apalah… sepertinya dari kacamata saya sebagai seorang dokter tidak menunjukkan hal itu. Atau apakah ini muncul karena ada pihak ketiga yang sengaja memancing keributan dengan memprovokasi Prita, saya rasa juga enggak.

Begini, dijaman sekarang kualitas pelayanan adalah diatas segalanya bagi badan atau perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Jasa kesehatan yang disediakan rumah sakit juga nggak kalah, ikut-ikutan memberikan layanan berkualitas. Sehingga hal ini menimbulkan perlombaan antar rumah sakit dalam memasarkan jasanya yang berkualitas. Hal ini juga membuat konsumen kesehatan seolah mendapat angin segar, seperti kata pepatah “pembeli adalah raja” itupun sangat diingat oleh para konsumen. Sehingga maaf, banyak konsumen kesehatan yang saya jumpai berlagak sok-sokan, sok jagoan, sok pintar, sok berkuasa dan pada akhirnya memandang remeh kita yang ada dirumah sakit. Semuanya bisa diatur, bahkan konsumen sering meminta obat-obatan sekehendak hatinya tanpa indikasi. Konsumen juga dengan seenaknya memperlakukan kami sebagai jongos.Beberapa hal tidak bisa kita penuhi dengan alasan memang tidak sesuai dengan kode etik kedokteran (ini dalam hal pasien minta obat-obatan tertentu).

Setelah perlakuan seperti itu, pihak rumah sakit (yang tentu saja juga manusia) pada suatu saat akan terpancing emosinya, sehingga perkataannya tidak lagi mencerminkan pelayanan yang berkualitas lagi. Segala tindakannya jadi nggak bener, nyuntik nggak bener, memberikan informasi jadi nggak bener, hingga akhiirnya akan menjatuhkan nama rumah sakit itu sendiri. Karena seperti itu akhirnya KOMUNIKASI menjadi tidak berjalan seperti seharusnya.

Dalam ilmu menejemen terdapat banyak cara untuk meredam dan menghadapi komplain dari pelanggan, salah satunya adalah menjalin komunikasi yang intersif dan berkualtas dengan konsumen. Komplain sebaiknya tidak dipandang sebagai suatu hal yang menjatuhkan harga diri, tapi harus dipandang sebagai suatu masukan yang berguna bagi peningkatan kualitas layanan. Sehingga cara menghadapinya pun harus dengan ramah dan kepala dingin. Itu sejauh yang saya bisa tuliskan disini mengenai ilmu manajemen rumah sakit (kalau saya tulis semua pasti judulnya bukan tentang Prita, tetapi tentang kulian manajemen pemasaran yang 3 sks itu).

Disini ternyata pangkalnya. Bisa jadi Prita yang merasa dirinya sebagai RAJA, dan menganggap rumah sakit sebagai PEMBANTU atau JONGOS bertindak sewenang-wenang, berkata dengan kasar, penuh kecurigaan dan menuduh seolah-olah semua tindakannya benar dan semua tindakan rumah sakit salah. Prita tidak mau mendengar penjelasan dengan seksama dan berkepala dingin. Dan akhirnya menurut dia komplainnya tidak didengar rumah sakit, serta memilih mailing list sepagai media menumpahkan kekesalannya (dengan menggunakan bahasa yang tidak atau kurang patut tentunya). Disisi lain, rumah sakit dengan segala masalah yang terjadi didalamnya (banyak hal yang harus dikerjakan, bukan ngurusin komplain Prita saja) juga merasa tak tau lagi bagaimana menghadapi komplain dengan baik. Sehingga dalam memberi penjelasan atau usaha dalam menyelesaikan komplain menjadi kurang maksimal.

Hal ini bisa dicegah apabila (sekali lagi) KOMUNIKASI berjalan dengan baik dan benar. Tidak ada pihak yang merasa menjadi RAJA dan pihak lain yang menjadi JONGOS. Duduk bersama dalam satu forum, ungkapkan segalanya dengan santun, dengarkan pendapat lawan bicara, terima kebenaran sebagai suatu kebenaran meski terasa sakit. Itu tips dari saya.

Saya jadi teringat sebuah lagu dari bang haji Rhoma Irama yang berjudul LIDAH.

Lidah itu sangat tajam, tajamnya lebih dari pedang.
Pandai-pandailah menjaga, lidahmu dalam berbicara.
Karena dari omongan bisa menimbulkan salah faham.
Karena dari omongan bisa menimbulkan keributan.

Semoga bermanfaat …

Swine Flu Yang Dapat Dicegah Dengan Tindakan Sederhana, Mudah Dan Murah

Swine Flu Yang Dapat Dicegah Dengan Tindakan Sederhana, Mudah Dan Murah

Belum juga hilang dalam ingatan kita, betapa dasyatnya penyakit flu burung (avian influenza) melanda dunia. Kasus yang berawal di Hongkong beberapa tahun yang lalu itu telah menyebar keseluruh penjuru dunia. Indonesia pun tak luput dari agresi virus flu burung. Masyarakat menjadi panic, takut mengkonsumsi daging unggas. Pemerintah mencanangkan pemusnahan unggas ternak secara massal sehingga menimbulkan kepanikan yang luar biasa dari para peternak. Departemen kesehatan melalui puskesmas dan rumah sakit pemerintah segera mempersiapkan diri, baik persiapan tempat perawatan khusus, hingga ketersediaan obat tamiflu yang mencukupi.

Awal tahun 2009, sekitar bulan maret-april muncul berita yang menghebohkan dunia. Swine Influenza atau lebih sering disebut dengan flu babi menyerang Meksiko dan menimbulkan banyak korban meninggal. Virus yang kabarnya berasal dari kolaborasi antara virus flu pada manusia, unggas dan babi tersebut dengan sangat cepat menular kebanyak orang. Bahkan menurut catatan, penularannya jauh lebih cepat dibandingkan penularan flu burung. Dunia kembali terhenyak, banyak Negara buru-buru menyiapkan strategi penanggulangan untuk mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.

Sampai tanggal 30 april 2009 kematian warga Meksiko telah mencapai angka 160 orang dan penyebarannya sendiri sudah mencapai Eropa. Karena pada dekade ini virus tersebut mewabah di Meksiko maka flu babi (swine flu) ini bisa juga disebut flu Meksiko (istilah dari creativesimo).

Swine flu, bertype H1N1 (H:Hemagglutinin, N:Neuraminidase) adalah tipe influenza kategori A yang virusnya diperoleh dari babi, burung dan manusia yang kemudian tergabung dalam sebuah jenis virus baru. Virus-virus inilah yang kemudiab berkembang menjadi sebuah pandemic. Penyakit menular ini berpotensi menyebar dengan cepat karena sebelumnya tubuh manusia tidak pernah terekspos dan tidak memiliki daya tahan tubuh akan paparan virus semacam ini.

Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif.

Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di.

Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga terbukti disebabkan oleh sero tipe asal manusia. Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.

Flu Babi pernah Mewabah Tahun 1918

Pada tahun 1918 flu babi pernah mewabah secara mendadak di Brest (Prancis), Boston (Amerika Serikat) dan Freetown (Sierra Leone), merupakan wabah penyakit yang mematikan dengan tingkat kematian yang terjadi mencapai 80%. Pandemi flu babi itu menewaskan 20-50 juta orang di seluruh dunia.

Pandemi flu babi dimulai dengan penyakit ringan yang muncul pada musim semi 1918, diikuti gelombang yang lebih mematikan pada enam bulan kemudian. Para ilmuwan berspekulasi bahwa sesuatu telah terjadi pada virus tersebut setelah gelombang pertama. Salah satu teori menduga bahwa virus itu menginfeksi babi atau mamalia lain dan bermutasi sebelum kembali menginfeksi manusia dalam bentuk yang lebih mematikan.

Flu babi pada hewan

Pada kejadian wabah penyakit, masa inkubasi sering berkisar antara 1-2 hari, tetapi bisa 2-7 hari dengan rata-rata 4 hari. Penyakit ini menyebar sangat cepat hampir 100% babi yang rentan terkena, dan ditandai dengan apatis, sangat lemah, enggan bergerak atau bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri otot, eritema pada kulit, anoreksia, demam sampai 41.8oC. Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat, dibarengi dengan muntah eksudat lendir, bersin, dispnu diikuti kemerahan pada mata dan terlihat adanya cairan mata. Biasanya sembuh secara tiba-tiba pada hari ke 5-7 setelah gejala klinis. Terjadi tingkat kematian tinggi pada anakanak babi yang dilahirkan dari induk babi yang tidak kebal dan terinfeksi pada waktu beberapa hari setelah dilahirkan. Tingkat kematian pada babi tua umumnya rendah, apabila tidak diikuti dengan komplikasi. Total kematian babi sangat rendah, biasanya kurang dari 1%. Bergantung pada infeksi yang mengikutinya, kematian dapat mencapai 1-4%.

Beberapa babi akan terlihat depresi dan terhambat pertumbuhannya. Anak-anak babi yang lahir dari induk yang terinfeksi pada saat bunting, akan terkena penyakit pada umur 2-5 hari setelah dilahirkan, sedangkan induk tetap memperlihatkan gejala klinis yang parah. Pada beberapa kelompok babi terinfeksi bisa bersifat subklinis dan hanya dapat dideteksi dengan sero konversi. Wabah penyakit mungkin akan berhenti pada saat tertentu atau juga dapat berlanjut sampai selama 7 bulan. Wabah penyakit yang bersifat atipikal hanya ditemukan pada beberapa hewan yang mempunyai manifestasi akut. Influensa juga akan menyebabkan abortus pada umur 3 hari sampai 3 minggu kebuntingan apabila babi terkena infeksi pada pertengahan kebuntingan kedua. Derajat konsepsi sampai dengan melahirkan selama tejadi wabah penyakit akan menurun sampai 50% dan jumlah anak yang dilahirkan pun menurun.

Flu babi pada manusia

Orang yang bekerja dengan unggas dan babi memiliki resiko yang tinggi untuk terpapar penyakit infeksi menular antara hewan dan manusia (zoonosis). Pernah dilaporkan kejadian transmisi influenza dari babi ke pekerja, pada tahun 2004 oleh Universiti of Iowa. Kejadian wabah pada tahun 2009 ini merupakan reassortment nyata pada beberapa strain influeanza A subtipe H1N1, termasuk strain endemik pada manusia dan dua strain endemik pada babi, seperti avian influenza.

CDC melaporkan bahwa gejala dan transmisi flu babi dari manusia ke manusia terjadi seperti kejadian flu musiman, demam seperti biasa, kehilangan nafsu makan, keletihan dan batuk. Beberapa mengalami sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare. Penyakit bisa menular dari leleran yang tersebar melalui bersin, batuk dari penderita.

Flu babi tidak dapat menyebar melalui produk-produk babi, artinya tidak ditularkan melalui makanan. Flu babi pada manusia paling berpeluang menular pada 5 – 10 hari pertama setelah terinfeksi, terutama pada anak-anak dan pada saat kondisi tubuh lemah.

Tanda-tandanya :

  • Demam
  • Batuk
  • Sakit pada badan, kepala, ataupun tenggorokan
  • Kedinginan
  • Badan terasa lemas
  • Diare dan muntah
  • Gagal napas

Segera mencari bantuan medis apabila anak mengalami :

  • Nafas yang cepat atau kesulitan bernafas
  • Kulit berwarna kebiruan
  • Tidak minum cukup cairan
  • Tidak bangun atau tidak berinteraksi dengan orang lain
  • Anak menjadi lekas marah atau ngambek dan tidak mau disentuh orang lain.
  • Gejala seperti flu bertambah parah
  • Demam disertai dengan ruam

Segera mencari bantuan medis bila orang dewasa mengalami :

  • Sulit bernafas atau nafas pendek
  • Sakit pada dada atau perut
  • Pusing yang datang tiba-tiba
  • Merasa kebingungan
  • Muntah-muntah yang parah atau terus-menerus

Penatalaksanaan

Uji laboratorium telah menemukan bahwa virus babi influenza A (H1N1) rentan terhadap obat antivirus oseltamivir dan zanamivir, dan CDC telah mengeluarkan petunjuk untuk penggunaan dari obat ini untuk mengobati dan menghambat infeksi virus flu babi.

Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini. Antivirus lain (misal, amantadine, rimantadine) tidak direkomendasikan oleh karena saat ini resistensi pada influenza lainnya telah terjadi pada beberapa tahun lalu.

Terapi suportif dasar (misal, terapi cairan, analgesik, penekan batuk) perlu diberikan. Pengobatan antivirus secara empiris perlu diperhatikan untuk kasus flu babi, baik yang sudah pasti, masih dalam kemungkinan, ataupun kecurigaan terhadap kasus ini. Pengobatan pasien rawat inap dan pasien dengan resiko tinggi untuk komplikasi influenza perlu sebagai prioritas.

Penggunaan antivirus dalam 48 jam sejak onset gejala sangat penting dalam hubungannya dengan efektivitas melawan virus influenza. Pada penelitian mengenai flu musiman, bukti akan manfaat pengobatan lebih baik jika pengobatan dimulai sebelum 48 jam sejak onset penyakit. Walau begitu, beberapa penelitian mengenai pengobatan flu mengindikasikan banyak manfaat, termasuk mengurangi kematian atau durasi rawat inap, bahkan pada pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 48 jam setelah onset penyakit. Lama pengobatan yang direkomendasikan adalah selama 5 hari.

Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir (Relenza) bekerja dengan menghambat neuraminidase, suatu glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus, pelepasan virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus akan berkurang. Oseltamivir dan Zanamivir merupakan terapi yang efektif untuk influenzavirus A atau B dan diminum dalam 48 jam sejak onset gejala.

Apa yang harus dilakukan agar tidak tertular?
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan flu seperti flu biasa, flu burung, atau flu babi ini. Pertama dan yang paling penting adalah mencuci tangan. Jaga kesehatan Anda secara keseluruhan. Istrirahat atau tidur yang cukup, tetap aktif secara fisik, kendalikan stress, minum cairan yang cukup, dan makan makanan yang bernutrisi.

Cobalah untuk tidak menyentuh permukaan atau benda yang mungkin terkontaminasi virus flu. Hindari juga kontak dekat dengan penderita.

Untuk mencegah penularan flu kepada orang lain, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin dengan menggunakan tissue, lalu buanglah tissue tersebut ke tempat sampah.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun, terutama setiap habis batuk atau bersin. CDC merekomendasikan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air hangat selama 15 sampai 20 detik. Pembersih tangan instan berupa gel sanitizer juga cukup efektif.
  • Apabila Anda menderita sakit influenza, CDC merekomendasikan Anda untuk tetap tinggal di rumah dan menghindari kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan.

Apakah flu babi dapat menular dengan mengkonsumsi daging babi?
Tidak. Virus flu babi tidak menular melalui makanan. Aman untuk memakan daging babi yang sudah ditangani dan dimasak dengan baik. Memasak daging babi dengan suhu 160 derajat F dapat membunuh virus flu begitu juga dengan bakteri dan virus yang lain.

Adakah obat untuk merawat penderita flu babi?
Vaksin untuk mencegah penularan virus flu babi mungkin belum ditemukan, namun menurut badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada obat yang digunakan untuk merawat penderita flu babi. CDC merekomendasikan penggunaan antivirus oseltamivir atau zanamivir untuk perawatan dan pencegahan infeksi flu babi. Untuk perawatan, obat antivirus berkerja paling baik apabila dimulai sesegera mungkin setelah mengalami sakit (paling tidak dalam 2 hari setelah munculnya gejala)

Pencegahan

Untuk pencegahan infeksi, direkomendasikan untuk mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun sanitizer berbahan dasar alkohol, terutama jika bepergian di tempat umum. Hindari menyentuh mata, hidung, mulut sebelum membersihkan tangan terlebih dahulu. Jika batuk, tutup dengan tissue dan buang segera ke tempat sampah, dan cuci tangan kembali.

Virus flu babi rentan terhadap obat-obat seperti amantadine, rimantadine, oseltamivir dan zanamivir, namun untuk wabah 2009 ini, direkomendasikan pengobatan menggunakan oseltamivir dan zanamivir. Vaksin untuk manusia H1N1 tidak efektif melindungi terhadap H1N1 flu babi, walaupun strain virusnya sama, namun secara antigentik berbeda.

Pada intinya, pencegahan adalah hal yang paling baik dan paling mudah dilakukan. Kebiasaan mencuci tangan adalah salah satu bentuk usaha pencegahan yang paling mudah dan murah.

Sumber :

http://www.cdc.gov/h1n1flu/

http://www.who.int/mediacentre/news/statements/2009/h1n1_20090425/en/index.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Swine_influenza

http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=20042

http://wah1d.wordpress.com/2009/05/01/swine-influenza-flu-babi/

http://www.benss.co.cc/internasional/flu-babi-pig-influenza-swine-influenza

http://doctorology.net/?p=260

Arogansi Eropa Dibalas dengan Kecelakaan Pesawat

latihan-pesawat-dalMasih ingatkah anda tentang blokade maskapai penerbangan Indonesia di dataran Eropa? Saat itu, negara-negara Uni Eropa dengan kompak menyatakan daerahnya tertutup bagi penerbangan pesawat-pesawat komersil dari Indonesia. Mereka beralasan, kita sangat lemah dalam pengawasan pesawat, kita terlalu banyak memakai pesawat bekas dan tua sehingga mengancam keselamatan penerbangan.

Dan ternyata, kecelakaan demi kecelakaan menimpa maskapai penerbangan di Eropa. Yang terbaru, kecelakaan pesawat komersial milik Turki terjadi di Belanda hari ini. Dan jika begini, apakah sebenarnya eropa merupakan benua dengan negara-negara yang selalu mengutamakan keselamatan? Ternyata mereka tak luput dari kecelakaan pesawat. Pertanyaannya sekarang adalah :

Apakah Indonesia juga berani memberlakukan blokade yang sama terhadap maskapai penerbangan eropa? Seberapa besarkah nyali pemerintah kita? Kita tunggu saja nanti.

Berhubung ada gangguang pada Blog www.drhandri.com, maka untuk sementara waktu kegiatan saya pindahkan ke blog saya ini.

PENGUMUMAN

Telah setahun mungkin blog ini kami kelola dengan susah payah. Bercucurkan keringat dan bermandikan darah. Insya allah, mulai bulan Juli 2008, kami akan pindahan ke rumah baru kami yang lebih representatif dan semoga bisa lebih bikin kerasan dan nyaman dalam mengetikkan alamat kami. Hari ini telah kami beli hosting, dan kami resmi akan pindah ke www.drhandri.com. Semoga para pembaca dan penikmat blog saya akan maklum dan lebih sering mampir ketempat praktek saya yang baru. Terimakasih semuanya. Terimakasih juga buat rekan-rekan sejawat dokter blogger indonesia, Pak Erik Tapan, mas Dani Iswara dan Anis Fuad yang sempat mampir dan memasukkan blog saya sebagai salah satu blog dokter teraktif dalam majalan Cermin Dunia Kedokteran. Terimakasih semuanya…

Ikatan Dokter Segera Bentuk Tim Kasus Unas

Dari sebuah kasus nasional, tewasnya mahasiswa yang diduga oleh dokter mengindap HIV reaktif. Riwayat sebelumnya, ditahan oleh polisi karena melakukan demo (anarkis?) dan selepas dari penjara langsung sakit dan oleh keluarganya dibawa ke rumah sakit sampai akhirnya meninggal. Mahasiswa tidak terima ketika dokter mengatakan bahwa almarhum mengindap HIV reaktif. Kasus yang menarik, karena ternyata mahasiswa membawa kasus ini ke PB IDI dan meminta IDI memeriksa anggotanya karena menganggap vonis HIV reaktif terlalu cepat (?)….

Liputan6.com, Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia segera membentuk tim yang akan memeriksa dugaan pelanggaran kode etik terkait kasus wafatnya mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Maftuh Fauzi, yang dirawat di sejumlah rumah sakit sebelum meninggal. “Kami akan membentuk tim yang akan melakukan pemeriksaan terhadap mereka yang diduga melanggar Etika Kedokteran,” kata Ketua Umum Pengurus Besar IDI Fahmi Idris, saat menerima pengaduan mahasiswa Unas di Jakarta, Senin (23/6). Continue reading